Konsep Global Religius October 25, 2007
Posted by misterpawank in Opini.trackback
Ada sesuatu yang hilang saya sadari sebagai bentuk kesadaran dalam memahami esensi hidup yang memang begitu complicated bersama orang-orang tercinta. Ada realitas yang menakjubkan. Ada banyak pelajaran. Semua mengarah bersama konsep yang telah digariskan sasarannya, maknanya….
Saya memandang kehidupan itu sangat indah, banyak hal-hal yang harus dijalani dengan apa adanya menurut sikap dan pikiran saya, namun dibalik itu, kini kesadaran muncul lagi, tapi dengan caranya yang unik. Sebuah entitas perjalanan hidup yang telah digariskan untuk saya jalani, tapi saya menyikapinya bahwa ini merupakan implikasi dari kesadaran pribadi akan makna penting eksistensi diri dan manifestasi dari kecintaan-Nya, sehingga harus saya jawab apa itu Tanggung Jawab dan Kewajiban sebagai pribadi yang memiliki visi dan misi dalam memandang kakekat pencarian jati diri.
Problematika hidup mampu menggiring saya melewati tahap kesadaran yang tinggi akan makna penting kekuatan berpikir bahwa setiap detik kehidupan itu tak satupun yang luput dari makna pemahaman dan pelajaran. Diusia yang relatif muda ini, telah banyak yang saya dapati dari dinamika hidup, namun itu semua diawali dengan modal kepribadian dan pikiran yang selalu konsisten dan optimistik. Memang semua input-input yang masuk selalu menjadi buih-buih kekuatan yang secara perlahan mampu membentuk satu pribadi yang kaya konsep pemikiran dan kesadaran ditambah dengan nilai-nilai moralitas yang tinggi, lama saya peroleh dari orang-orang yang mengasihi saya sejak pertama kali dilahirkan untuk memahami “janji-janji tersembunyi”.
Betapa eksistensi setiap individu pada akhirnya akan pasti terbawa pada cakrawala pencerahan yang nyata. Saya sadari bahwa setiap orang itu harus jadi pemimpin, dimulai dari memimpin dirinya sendiri sampai pada memimpin orang lain baik dengan pendekatan pribadi maupun communal approach yang bersifat integral-komprehensif.
Fenomena keterpurukan nilai-nilai moralitas bagi banyak orang saat ini, merupakan konsekuensi dari tidak teraktualisasikannya jiwa-jiwa kepemimpinan dalam diri, sehingga memperkuat input-input negatif yang masuk dalam interaksinya dengan lingkungan pemikiran yang tidak terarah dan cenderung mundur (set-back) untuk membentuk suatu nilai-nilai yang menghancurkan.
Maka ketika kesadaran itu saya peroleh, memang diakui ada “lost period” dalam memahami tanggung jawab pribadi, tapi saya pikir semua orang mengalaminya sebagai langkah awal membentuk karakter pribadi yang mampu memberi warna tersendiri dalam menyikapi fenomena pengeksploitasian nilai-nilai budaya barat secara besaran sekarang ini, sekaligus sebagai upaya untuk tidak menunjukkan sikap superioritas dalam diri saya karena bagaimanapun dalam hal ini saya masih berada pada jalur yang sama dan tetap konsisten memegang komitmen untuk perlahan-lahan membentuk seorang “great personal” hingga akhirnya nanti menjadi pribadi teladan dalam lingkungan pribadi, keluarga dan masyarakat dengan menjunjung tinggi nilai-nilai potensi diri yang konseptual, bersama membangun kejayaan Indonesia dengan ideologi dan pemikiran global-religius.
Setiap jaman selalu saja memiliki dan melahirkan tokoh dan sejarahnya sendiri, maka kenapa kita tidak melahirkan tokoh untuk diri kita ?. Kita tahu bahwa sejarah itu pasti berulang dan tidak perlu repot melahirkannya karena sejarah adalah entitas waktu dan akan selalu bersama kita sebagai manifestasi dari “janji-janji tersembunyi”, yang perlu dilahirkan hanyalah seorang tokoh dan itu dapat direalisasikan bagi diri kita yang mampu memahami eksistensinya dengan beragam fenomena subyek keinginan (will-sence). Maka mewujudkannya harus dimulai dengan pola hidup kesederhanaan (simple life style) yang tidak meremehkan potensi daya intelektual, kekuatan emosional dan kekuatan spiritual dan memiliki keinginan kuat (strong willingness) mengaplikasikan seluruh konsep pemikiran yang telah didapat sejak dimulainya kesadaran kekosongan jiwa yang siap menerima input pengetahuan baru (fully fresh brain drained).
Komitmen yang kuat akan pencarian sumber daya yang ada dalam diri yang terkonsep pada ketiga potensi ini, akan mensupport tercapainya segala keinginan yang terencana dalam hal memahami kondisi kehidupan dalam alam globalisasi yang materialistis dan konsumtif walau dengan beragam tantangan yang ada karena ketiga potensi ini memiliki daya covering dalam menghadapi segala macam tantangan menuju kesempurnaan yang terletak pada konsep itu sendiri. Analogi ini sangat banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari dengan kekuatan pikiran dalam berbagai aspek kehidupan yang mengarah pada pemahaman bahwa segala sesuatu tidak terjadi dengan sendirinya tapi akan selalu menikmati hasil dari dirinya. Inilah realitas tersembunyi.
Kemudian Ia memberinya bentuk (dengan perbandingan ukuran yang baik), dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-nya. Ia jadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan (perasaan) hati….”
(Q.S. 32 Surat As Sajdah (Sujud) Ayat 9)
Comments»
No comments yet — be the first.